Tadabbur Al Baqarah [2] ayat 1 - 5

TADABBUR, TARTIL DAN TERJEMAH
Qs. Al Baqarah (2); 1-5

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 1 الم

1. Alif laam miim

  2  ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ.

2. Kitab ini (Al Quran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa

     3 اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ

3. Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, dan menegakkan shalat,

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ.

Dan dari apa-apa yang kami rizkikan kepada mereka, mereka menginfakkannya

 4 وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ

4. Dan orang-orang yang  mereka beriman kepada  apa-apa yang diturunkan kepadamu (Al Quran)

وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ.

Dan kepada apa-apa yang  diturunkan sebelum kamu, dan terhadap akhirat mereka yakin

5 اُولٰئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ لا

5. Mereka Itulah berada diatas petunjuk Tuhan mereka,

وَاُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung

Hadits yang berkaitan dengan ayat  diatas

اِنَّ هٰذَا الْقُراٰنَ مَأْدُوْبَةُ اللّٰهِ فَتَعَلَّمُوْا مِنْ مَأْدُوْبَتِهِ مَاسْتَطَعْتُمْ اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ حَبْلُ اللّٰهِ وَهُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ عِصْمَةُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَنَجَاةُ مَنِ اتَّبَعَهُ لاَ يُعَوِّجُ فَيُقَوِّمُ وَلاَ يَزِيْغُ فَيُسْتَعْتَبُ وَلاَ تَنْقَضِيْ عَجَائِبُهُ وَلاَ يُخْلَقُ عَنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ (رَوَاهُ اَبُوْدَاودَ)

“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah jamuan Tuhan. Maka pelajarilah dari jamuan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang jelas, obat yang bermanfaat, penjagaan bagi yang berpegangteguh kepadanya, keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Tidak bengkok sehingga harus diluruskan, tidak menyimpang sehingga dikecam. Keajaibannya tidak berakhir, dan tidak memudar karena banyak membacanya.” (HR. Abu Dawud)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاٰنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بِنْ عَمْرٍو  رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْاٰنِ اِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَاِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ اٰخِرِ اٰيَةٍ تَقْرَؤُهَا (رَوَاهُ اَبُوْدَاودَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ)

Dari Abdullah bin amr ra. Dari Nabi SAW beliau bersabda: dikatakan kepada pemilik Al Qur’an bacalah! Dan tingkatkanlah! Dan tartilkanlah! Sebagaimana engkau mentartil di dunia sesungguhnya kedudukanmu (di surga) pada akhir ayat yang engkau baca” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi mensohihkannya)

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَجِيْئُ الْقُرْانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ يَارَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ, ثُمَّ يَقُوْلُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ  الْكَرَامَةِ, ثُمَّ يَقُوْلُ  يَارَبِّ اِرْضَ عَنْهُ فَيَرَْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اِقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ اٰيَةٍ حَسَنَةً  (رَوَاهُ  التِّرْمِذِيُّ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ)

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW beliau bersabda: Al Qur’an datang pada hari qiamat, lalu ia berkata: Ya Tuhanku hiasilah ia! Lalu Ia dipakaikan mahkota kehormatan, kemuadian ia berkata lagi: ya Allah tambahlah lalu ia dipakaikan lagi perhiasan kehormatan kemudian ia berkata: wahai Tuhanku, ridhailah ia lalu Ia (Allah) meridhoinya lalu dikatakan kepadanya bacalah! Dan tingkatkanlaht dan ditambahkanlah pada  ayat satu kebaikan. ( HR AT Tirmidzi dengan sanad ang shohih)

  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَاَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا لاَ اَقُوْلُ  الم حَرْفٌ وَلكِنْ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ(رَوَاهُ  التِّرْمِذِيُّ)

Dari abdullah ra dari Nabi SAW beliau bersabda: barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an)  maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisalnya, aku tidak berkata  الم (alif lam mim) itu satu huruf tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR. At Tirmidzi)

DOA SETELAH MEMBACA ALQUR’AN

اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ الْقُراٰنِ  يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ,

Ya Allah, berilah cahaya dalam hatikud engan cahaya berupa hikmah Al Qur’an Wahai Dzat yang Maha Penyayang

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا نَافِعًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا طَيِّبًا  وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ  الْعَالَمِيْنَ

Ya Tuhanku, tambahkanlah bagiku ilmu yang bermanfaat dan rizkikanlah kepadaku kefahaman yang baik. Dan segala puji milik Allah Tuhan semesta alam

Pemikiran Cendekiawan Muslim Indonesia

HADJI OEMAR SAID COKRO AMINOTO

Beliau adalah modernis pertama dari cendekiawan muslim indonesia yang menginginkan agar gerakan islam terorganisir dengan rapi , itulah sebabnya beliaulah orang yang pertama kali mendirikan organisasi islam ternama yaitu "Syarikat Islam".13 Mei 1912 Cokroaminoto mendapat amanah kehormatan ,memegang kepemimpinan Syarikat Islam , walaupun sebenarnya Syarikat Islam didirikan pada tahun 1906 namun  sejarah indonesia menuliskannya tgl 10 September 1912 yaitu pada saat mendapat Badan Hukum  dari  Notaris di Surakarta.

Oemar Said Cokroaminoto  seorang ulama dan diplomat serta politikus, melalui Syarikat Islam bertindak sebagai pandai besi, ditempanya jiwa ummat yang sedang panas ibarat besi yang sedang membara. kemudian jiwa itu dibentuk menjadi senjata yang mampu melindungi dan menjaga serta menyukseskan kepentingan dan target ummat, menegakkan tuntutan hak politik ummat.

Dengan mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW, Oemar Said Tjokroaminoto berjuang membangkitkan kesadaran nasional umat Islam. Bangkit dengan Al Qur’an dan sunnah. Melalui paradigma Lima-K, dibangunkanlah kesadaran umat Islam yang sedang terlena dan lupa akan martabat dirinya, agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka:

Pertama, kemauan. Seperti yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Bila rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Sebaiknya, bila baik maka baiklah seuruh kerja tubuhnya. Apa itu? Qolbu, sumber gerak motivasi manusia.

Dari pengertian tersebut, Oemar Said Tjokroaminoto, membangkitkan terlebih dahulu kemauan umat Islam. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka umat Islam akan memiliki kekuatan yang tak terhingga. Tidaklah menurut teori carl von Clausewitz, on war, bahwa untuk dapat memenangkan perang, maka yang diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy will (penghancuran kemauan lawan)

Kedua, Kekuatan. Tidaklah benar suatu bangsa menjadi “terkalahkan” apabila wilayahnya sudah diduduki. Hal tersebut masih dapat direbut kembali wilayahnya, apabila yang terkalahkan masih mempunyai kemauan. Oleh karena itu, Oemar Said Tjokroaminoto, memperioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia.

Ketiga, kemenangan. Apabila kemauan yang menumbuhkan kekuatan, dan kedua-duanya telah dijadikan landasan dasar gerak juang umat, maka dapat diperhitungkan hasilnya, InsyaAllah akan memperoleh kemenangan.

Keempat, kekuasaan. Apalah arti kemenangan, apabila tidak disertai tindak lanjut untuk siap berperan aktif sebagai pembuat kebijakan melalui kekuasaan yang diterima sebagai amanat rakyat. Oleh karena itu, menurut konsep Oemar Said Tjokroaminoto bahwa tujuan membangkitkan kesadaran umat Islam adalah agar umat Islam siap dan mau menduduki kembali kekuasaan.

Umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara para sultannya dipaksa untuk menandatangai korte verklaring (perjanjian pendek). Para sultan hanya memiliki gelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Lalu, bagaimana dan apa yang harus diperjuangkan umat Islam? Dalam kondisi tersebut, umat Islam harus dibangkitan kesadarannya agar berani membangun kembali kekuasaan politik Islam yang pernah eksis di nusantara Indonesia.

Konsep Oemar Said Tjokroaminoto:

Tidak bisa manusia mendjadi oetama jang sesoengoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keoetamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena “ tauhid”sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.

Oleh karena itu, apalah arti umat Islam sebagai mayoritas, apabila berjuang merebut kembali kemerdekaan, tetapi tidak ada kesiapan, kemauan, dan keberanian untuk menduduki kekuasaan. Pasti akan terjajah kembali.

Perlu pula dijadikan target dari gerakan kebangkitan kesadaran nasional terhadap sebagian ulama yang menyebarkan ajaran bahwa kekuasaan politik dan ekonomi di dunia adalah untuk orang kafir. Umat Islam tempatnya adalah di akhirat. Kesalahan pemahaman beragama Islam tersebut, menjadi focus perhatian Oemar Said Tjokroaminoto untuk menyadarkannya agar mengeri bahwa umat Islam sengsara kehidupan beragamanya akibat penjajah menguasai pemerintahan. Dengan kata lain, umat Islam tertindas dan kehilangan kemerdekaannya dikarenakan tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan ekonomi.

Kelima, kemerdekaan. Hanya dengan berperan aktif dalam pengambilan keputusan (decision makers) dalam lembaga ekskutif, legislatif, yudikatif, serta kelembagaan tinggi lainnya, menurut Oemar Said Tjokroaminoto, umat Islam akan memeroleh kemerdekaan politik. Setelah dimilikinya kemerdekaan poilitik, langkah selanjutnya menciptakan kemerdekaan sejati. Puncak dari kehidupan bernegara dan berbangsa yang berdaulat  adalah melepaskan umat Islam dan bangsa Indonesia seluruhnya dari kemiskinan dan kebodohan serta menegakkan keadilan.

Paradigma Lima-K tersebut, dituliskan dalam lambang banteng Sjarikat Islam. Ketiga paradigma dasar: kemauan, kekuatan, dan kemenangan, dituliskan dengan huruf arab melayu. Sedangkan kedua paradigma berikutnya, kekuasaan dan kemerdekaan, dituliskan dengan huruf jawa.

Perbedaan pilihan hurufnya, memberikan pesan tersirat bahwa ketiga paradigma: kemauan, kekuatan, dan kemenangan dituliskan  dengan huruf Arab melayu, melambangkan jiwa ketiga paradigma tersebut berlandaskan ajaran Islam. Ketiga-ketiganya diletakkan di kaki depan lambang banteng.

Kedua paradigma berikutnya dituliskan dengan huruf dan bahasa Jawa adalah kawasa (kekuasaan) dan merdika (kemerdekaan), dituliskan pada posisi yang tidak sama. Di sebelah kanan lambang banteng ada di atas lambang matahari, tertuliskan merdika (kemerdekaan). Di sebelah kiri banteng, tertuliskan kawasa (kekuasaan). Hal tersebut memberikan pengertian dalam mengaplikasikan kedua-duanya bertolak dari ajaran Islam, tetapi harus disesuaikan dengan lingkungan kehidupan budaya politik serta pertanda zaman (Zeitgeist) di Nusantara Indonesia.

Catatan: lambang banteng pada mulanya sebagai lambang Sjarikat Islam. Sesudah Perserikatan Nasional Indonesia berdiri, Boeng karno meminta izin kepada Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, lambang banteng dijadikan lambang Perserikatan Nasional Indonesia (1927M).

Lambang Sjarikat Islam semula memberikan gambaran kelengkapan kekuatan dan tujuan dari gerakan nasioanl yang dipimpinnya. Kekuatannya digambarkan dengan symbol banteng, dan segenap senjata pusaka yang dimiliki oleh berbagai etnis bangsa Indonesia, ditempatkan mengelilinginya perisai yang berbentuk jantung hati, menanamkan rasa cinta terhadap tanah air, bangsa, Negara dan agama. Senjata pusaka sebagai penjaga atau perlindungan. Kapal berlayar dan matahari terbit, melambangkan tanah air yang merdeka.

Di bagian bawah terdapat gambar Oemar Said Tjokroaminoto, ditempatkan dalam lingkaran tali. Sedangkan, di kanan dan kirinya terdapat symbol timbangan sebagai lambang keadilan, selanjutnya di bagian kiri terdapat symbol padi sebagai lambang kemakmuran, yang dibelit dengan pita berwarna merah dan putih, bertuliskan hadits: Al- mu’minu lil mu’mini kal bunyani yasyuddu ba’dhuhu ba’dhan (hubungan antarsesama mukmin laksana sebuah bangunan yang saling mengokohkan).

Adapun di bagian atas terdapat symbol matahari, dtengahnya terdapat bulan bintang yang memancarkan sinarnya sebagai lambang kehadiran Sjarikat Islam, penunjuk jalan juang umat, baik siang dan malam. Matahari dan bulan bintang tersebut dikelilingi bagian atasnya dengan tulisan Innamal mu’minina ikhwatun (sesungguhnya sesama mu’mi adalah ikhwan). Sedangkan di bagian bawahnya tertulis, billahi sabilil haq (bersama Allah di jalan yang benar).

Lambang syarikat Islam tersebut, selanjutnya menjadi lambang dari berbagai organisasi sosial , Partai Polotik dan Militer yang didirikan sesudah Syarikat Islam, sedangkan Syarikat Islam sendiri hanya menggunakan lambang Bulan Bintang.

Pada awal kepemimpinannya beliau masih menggunakan blankon jawa, tapi setelah Syarikat Islam menyebar ke daerah daerah lain tidak hanya di jawa beliau mengganti blankonya dengan Kopiah, yaitu suatu tutup kepala yang tidak pernah di pakai oleh suku apapun.
 
(Dikutip dari Buku "Api Sejarah" tulisan Ahmad Mansur Suryanegara)

PROFIL SANTRI MAHASISWA FIRDAUS TAHUN 2011


Dari sebelah kiri Atobroni Rawavanse (mahasisiwa ITN-asal Ponorogo), Ridwan Ardani (Mahasisiwa UMM-asal Kotabaru-Kalimantan), Ahmad Firdaus Sulthoni (Mahasiswa UIN-asal Jember) dan Zakky Zeaudin Ahmad (Mahasiswa UM-asal Blitar)


Muhammad Agus Surasyid
Mahasiswa Fakultas Pertanian Brawijaya
daerah Sidoarjo Jawa Timur



dari kanan bawah : Muslikhudin s.com., dari Fakultas MIPA Unibraw ( sekarang bekerja  di UIN Malang ), Anshorul Fatah dari Fakultas Psikologi UM ( dah selesai Belum Anshorul ), Dwi Dian  dari FAI UMM ( dah selesai pa belum nih ), Attobronini Rawavase dari Fakultas........ ITN Malang ( sih nngarap apa Ron ), Agus Surosyid dari Fak Pertanian Unibraw  ( cepetan kuliahnya dah hampir punya jundi Nich ), Muji Eko Setianto Fak Syariah UIN malang ( Lho kok ilang kemana nich juntrungnya ).

Surat Al Fatihah [1] ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
“Raja / Penguasa hari pembalasan”

Allah yang Maha pengasih dan maha penyayang tersebut adalah juga penguasa hari pembalasan, Yang akan melakukan perhitungan-perhitungan terhadap amal hamba-hamba-Nya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa يَوْمِ الدِّيْنِ adalah hari pembalasan sebagaimana sebuah atsar yang diriwayatkan darinya:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: يَوْمُ الدِّيْنِ يَوْمُ الْحِسَابِ لِلْخَلاَئِقِ, يَدِيْنُهُمْ بِأَعْمَالِهِمْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ. وَ إِنْ شَرًّا فَشَرٌّ إلاَّ مَنْ عَفَاعَنْهُ[1]
Dari ibnu Abbas beliau berkata: yaumuddin itu adalah hari perhitungan bagi seluruh makhluk, mereka akan dibalas berdasar amal mereka, bila baik maka baiklah hisabnya dan jika buruk maka buruklah hisabnya, kecuali Dia (Allah) mema’afkannya.
           
Pada hari pembalasan nanti Allah adalah raja yang menguasai semesta. Tiada lagi raja-raja dunia yang sekarang seolah-olah sangat berkuasa, ketika hari pembalasan diakhirat nanti tiba-tiba mereka tak memiliki kekuasaan apapun, bahkan mereka termasuk orang yang akan diadili sebagaimana sabda rasulullah SAW. dalam sebuah hadist.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقْبِضُ االلهُ الْأَرْضَ وَ يَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ, أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ؟ (رَوَاهُ الشَيْخَانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ)
Rasulullha SAW bersabda; Allah menggenggam bumi dan Ia menghamparkan langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: Aku Adalah raja”, mana raja-raja bumi tersebut ?  mana  para raja yang sewenang-wenang itu ? Dan mana orang-orang yang menyombongkan diri tersebut? ( Diriwayatlkan oleh dua syaikh, Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairah)
            Setiap ummat manusia akan menghadapi suatu pembalasan yang amat menakutkan  seperti tergambar dalam surat Abasa (80) ayat 33-37, yang berbunyi sebagai berikut:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ(33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ(34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ(35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ(36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ(37)
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua)
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya
Dari ibu dan bapaknya
Dari istri dan anak-anaknya
Setiap orang dari mereka pada hari itu
Mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya
(QS. Abasa, 80: 33-37)

Pada hari itu setiap orang sangat takut dengan hisabnya, dan mereka ingin hisab tersebut ditunda lebih lama agar mereka dapat beramal shaleh, tapi saat itu bukanlah saat untuk beramal, sebab  mereka telah diberi kesempatan untuk beramal ketika di dunia dulu.dan mereka tidak mempergunakannya dengan baik, bahkan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah.

Mengenai pertanggung jawaban pada hari pembalasan Prof. Dr. Quraisy Syihab[2] membaginya menjadi 2 macam pertanggung jawaban yaitu:
1.    Pertanggung jawaban yang bersifat individual, dimana setiap orang mempertanggungjawabkan amalnya masiang-masing sebagaimana ayat yang berbunyi:
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا (95)
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (QS. Maryam (19): 95)

2.    Pertanggung jawaban yang  bersifat kolektif ( jama’i). Dimana setiap bangsa, ummat, atau kelompok mempertanggungjawabkan sejarah perjalanan bangsanya, kelompoknya dan bagaimana peran setiap individu dalam sejarah perjalanan bangsa tersebut. Hal tersebut tercantum dalam dalam surat Al Jatsiyah ayat 28 yang berbunyi:
وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ(28)
Dan pada hari itu,
Kamu lihat tiap-tiap ummat berlutut.
Tiap-tiap ummat dipanggil
Untuk mempertanggung jawabkan buku catatan amalnya.
Pada hari itu
Kalian akan Di Balas Terhadap Apa-Apa Yang Kalian Kerjakan
(QS. Al Jatsiyah, 45:28)
            Pada hari itu يَوْمِ الدِّيْنِ  masing-masing ummat berkumpul untuk menyelesaikan urusan-urusan yang tak selesai di dunia ini, mungkin ada orang yang disakiti, dipenjarakan, atau dihinakan. Padahal sebenarnya dialah orang yang seharusnya diikuti oleh kaum tersebut karena selalu menyampaikan kebenaran dan menentang kedholiman yang merupakan misi utama ajaran Islam untuk mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Mungkin ada orang yang karena struktur kemasyrakatan menjadi sangat kaya, sedangkan yang lainnya menjadi sangat miskin atau sebagian lainnya menjadi sangat bodoh dan lemah karena kekuasaan di masanya tidak berpihak kepada kemiskinan dan kefakiran.
            Sedangkan makna ummat yang nantinya akan mendapat pengadilan dari Allah menurut Prof. Dr. Dawam Raharjo dalam buku ensiklopedi Al Qur’annya sangat luas sekali, dapat berupa suatu organisasi atau lembaga keagamaan/ kemasyarakatan dapat pula berupa sekelumpulan orang yang memiliki visi dan misi yang sama, atau bahkan suatu negara atau masyarakat yang terkumpul dalam suatu negara. Jika demikian maka dapat dikatakan setiap kelompok, organisasi, lembaga atau negara akan mempertanggungjawabkan  segala perjalanan sejarah  atau amal usaha yang telah dilakukannya di dunia dahulu.[3]
            Menurut pandangan Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi dzilalil Qur’an, ayat ini (مَالِكِ يَومِ الدِّيْنِ) adalah merupakan kepercayaan global (menyeluruh) terhadap hari akhirat, sebab  الْمَالِك adalah puncak kekuatan tertinggi di hari pembalasan, percaya kepada hari kiamat adalah aqidah pokok yang bernilai tinggi dan berdampak positif dalam kehidupan. Beberapa hal positif yang dapat diambil pelajaran dan keyakinan terhadap adanya hisab pada hari akhir adalah:
1) Orang yang keyakinannya kuat terhadap hari pembalasan pasti akan selalu mengaitkan segala amal perbuatannya di dunia ini dengan suatu kehidupan abadi yang langgeng, hingga ia pasti akan berbuat yang terbaik di dunia ini karena balasan yang diharapkannya adalah balasan di akhirat kelak.
2) Orang yang percaya pada hari kiamat tidak akan kecewa terhadap balasan manusia di dunia ini, yang kadang-kadang kurang menghargai kebenaran dan kebajikan, bahkan seringkali kebenaran dan kebajikan dilecehkan dan dihinakan karena berbeda dengan kepentingan  segelintir penguasa dholim.
3) Dengan kepercayaan pada hari kiamat membuat orang-orang yang beriman konsisten pada manhaj Allah yang mulia dan tidak mencari jalan-jalan atau tata cara hidup yang berbeda dengan yang dikehendaki Allah. Hanya Islamlah manhaj yang akan di tempuh dan diperjuangkan dalam hidup, walau tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan dunia ini cukup besar dan berat, karena ia tahu itu hanya bersifat sementara dan sesaat, sedangkan kehidupan abadi yang menyenangkan akan menantinya jika ia berhasil melaksanakan misi ketuhanannya.[4]  Sementara manusia yang lemah keyakinannya tidak akan konsisten dengan manhaj Islam dalam hidup dan perjuangannya karena kesadaran transendennya tidak membawanya kesana, tapi ia akan menghabiskan waktunya dengan segala sesuatu yang melalaikan yang tidak membawa manfa’at bagi kehidupan akhiratnya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Hadid (57) ayat 14 yang berbunyi:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمْ الأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ اَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورْ (الْحَدِيْد : 14)
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
"Bukankah dahulu kami bersama-sama dengan kalian?"
 Mereka menjawab:
 "Benar,
 Tetapi kalian mencelakakan dirimu sendiri
 Dan menunggu-nunggu (kehancuran kami) dan kalian ragu-ragu (terhadap agama)
Serta ditipu oleh angan-angan kosong
Hingga datanglah ketetapan Allah;
dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.
 (QS. Al Hadid :14)

4) Kepercayaan kepada hari pembalasan dapat membuat manusia menjadi produktif dengan kerja yang berkualitas karena tahu segala nikmat akan dihisab oleh Allah dengan hisab yang sebenar-benarnya sebagimana Umar bin Khattab pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفَسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
 “Hisablah diri kalian  sebelum kalian dihisab”.

            Demikianlah pengaruh keyakinana terhadap hari kiamat pada diri seseorang yang jika diapresiasikan selalu akan membawa dampak yang sangat positif bagi optimisme dan keteguhan pribadi seseorang, oleh sebab itu Rasulullah SAW. Bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ بَعْدَ الْمَوْتِ ( رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرمِيْذِي وَابْنُ مَاجَه)
Orang yang cerdas adalah orang yang mengisab dirinya dan berbuat untuk hari setelah kematiannya.  (H.R. Imam Ahmad, turmudzi dan ibnu majah)

Karena itulah para sahabat sering menangis 


          
[8] Dawam Rahardjo, Ensiklopedi  Al Qur’an, cet 2, hal.174  2002
[9] Qurays Shihab : hal. 32

Silaturrahim dan Halal bi Halal di Kebun Teh Lawang

SITUASI HALAL BI HALAL DI KEBUN TEH LAWANG
USTADZ WAFIR, ( BAJU HIJAU ), PRASETYO PANDU, SUKAMTO

SITUASI SANTRI PUTRI DI KEBUN TEH LAWANG
SANTRI PUTRA DAN ALUMNI DI KEBUN TEH LAWANG
SANTRI PUTRI DI KEBUN TEH LAWANG
USTADZ SAFRIH SEDANG MEMBERI TAUSYIYAH
SANTRI PUTRA SEDANG BERACTION DI KEBUN TEH LAWANG

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India