Perpindahan alamat domain ke www.firdaus-malang.or.id

Terihitung mulai 31 Desember 2014, alamat kami pindah ke http://www.firdaus-malang.or.id/.
Oleh karena itu, seluruh konten yang ada dalam blog ini sudah kami ekspor ke alamat tersebut dan kemungkinan blog ini tidak akan kami update kembali.
Terima kasih.

Formulir Pendaftaran

TAK ADA JALAN UNTUK MAKSIAT


TAK ADA JALAN UNTUK MAKSIAT

Ibrahim bin Adham bercerita bahwa ia pernah didatangi seorang lelaki
“Wahai Abu Ishak (Ibrahim – pent)! Saya seorang yang banyak berdosa, seorang yang dzalim. Sudikah kiranya Tuan mengajari saya hidup zuhud, agar Allah menerangi jalan saya dan melembuutkan hati saya yang kesat ini.”
Ibrahim bin adham menjawab, “ Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikkut ini niscaya  engkau akan selamat.”
“Apa itu?” tanyanya.
“Pertama, bila engkau hendak bermaksiat, janganlah engkau memakan rizki Allah.”
“Jika diseluruh penjuru bumi ini, baik di barat maupun di timur, di darat maupun di laut, di kebun maupun di gunung-gunung, ada rizkiAllah maka dari mana aku makan?” kata lelaki itu
“Wahai Saudaraku, pantaskah engkau memakan rizki Allah, sementara engkau melanggar peraturan-Nya?”
“Tidak, demi Allah! Lalu, apa yang kedua?”
“Kedua, bila engkau bermaksiat kepada Allah,  janganlah engkau tingal di negeri-Nya!”
Lelaki itu menukas, “Tuan Ibrahim, demi Allah yang kedua ini lebih berat. Bukankah bumi ini milik-Nya? Kalau demikian halnya, dimana aku harus tinggal?”
“Patutkah engkau makan rizki Allah dan tinggal di bumi-Nya padahal engkau melakukan maksiat kepada-Nya”
“Tidak, Tuan Guru!”
“Ketiga, jika engkau henndak berbuat maksiat, janganlah engkau melupakan Allah yang Maha Mellihat dan beranggapan bahwa Dia lalai kepadamu!”
“Tuan Guru, bagaimana mungkin bisa begitu, padahal Allah Maha Mengetahui segala rahasia dan melihat setiap hati nurani”
“Layaknya engkau memikmati rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan maksiat kepada-Nya, sedangkan Allah melihat dan mengawasimu?”
“Tentu saja tidak, Wahai Tuan Guru. Lantas apa yang keempat?”
“Apabila datang  kepadamu malaikat maut hendak mencabut nyawamu,maka katakana kepada-Nya , Tunggulah dulu, aku akan bertobat.” Lelaki itu menjawab,” Tuan Guru, itu tidak mungkin dan ia tidak mungkin akan mengabulkkan permintaanku.”
Ibrahim bertutur,”Kalau engkau sadar bahwa engkau tak mungkin mampu menolak keinginannya, amak tentu ia akan dating kepadamu kapan saja, mungkin sebelum engkau bertobat.”
“benar ucapanmu! Sekarang, apa yang kelima?”
“Kelima, bila datang Munkar dan Nakir kepadamu, lawanlah kedua malaikat itu dengan seluruh kekuatanmu, bila kamu mampu.
”tidak mungkin, mustahil Tuan.” Kata lelaki itu.
Ibrahim bin Adham kemudian melanjutkan, “Keenam, bila esok engkau berada di sisi Allah SWT dan menyuruhmu masuk neraka, katakanlah : Ya Allah, aku tidak bersedia.”
“Wahai Tuan Guru, cukuplah. Cukuplah nasihatmu! “ jawab lelaki itu dan ia pun pergi

Bumi Dilihat dari Luar Angkasa


Tadabbur Ayat Kursi (QS. Al Baqarah [2]: 255)

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ

255 اَللهُ لاَ اِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُج

255. Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya

لاَ تَأْخُذُه سِنَةٌ وَّلاَ نَوْمٌ قلى

Tidak menimpanya kantuk dan tidak pula tidur

لَه مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ قلى

Kepunyaan-Nya apa-apa yang di lanfit dan apa-apa yang di bumi

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَه اِلاَّ بِاِذْنِه قلى

Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْج

Dia mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka

وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِه اِلاَّ بِمَا شَاءَج

Dan mereka tidak mengetahui sesuatupun dari ilmu Allah kecuali apa- apa yang Allah  kehendaki

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَاْلاَرْضَج

Luas singgasana-Nya meliputi langit dan bumi.

وَلاَ يَئُوْدُه حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ. 

Dan Allah tidak berat memelihara keduanya

dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Perkasa

256 لاَ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ج

256. Tidak ada paksaan dalam agama (Islam);

sungguh petunjuk itu telah jelas dari kesesatan.

فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِاللهِ

Maka barang siapa yang kafir  kepada syaithan dan beriman kepada Allah,

فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لاَ انْفِصَامَ لَهَاقلى

Maka sungguh ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat

yang tidak akan putus

وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ.

Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

 257) اَللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ امَنُوْا

257. Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman,

يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِقلى

Dia  mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ

Dan orang-orang yang kafir, pemimpin-pemimpin mereka adalah syaithan

يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِقلى

Thoghut  itu  mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan

اُولئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ.

Mereka itulah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di  dalamnya.

عَنْ عُثْمَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلاَثَةٌ: اَلْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ وَالْعُلَمَاءُ. (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه)

Dari Utsman dari Nabi SAW. Beliau bersabda: “akan memberi syafaat pada hari qiyamat adalah 3 kelompok: para nabi, para syuhada’ dan para ulama” (HR. Ibnu Majah)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَهُمْ فِيْ صِفَةِ الْمُهَاجِرِيْنَ, فَسَأَلَهُ اِنْسَانٌ اَيُّ اَيَةٍ فِى الْقُرْاَنِ اَعْظَمُ قَالَ النَّبِيُّ  (اَللهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ) حَتَّى انْقَضَتِ الْاٰيَةُ (رواه الْبخاري)

Bahwasanya Nabi SAW. Datang kepada mereka tentang sifat-sifat kaum muhajirin, lalu bertanyalah seseorang kepada beliau, surat apakah yang paling mulia di dalam Al Qur’an? Lalu Nabi bersabda (……….اَللّٰهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ هُوَ) sampai akhir ayat (HR. Bukhori)

قَالَ رَسُوْلُ اَللّٰهِ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( مَنْ قَرَأَ اَيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ كَانَ فِيْ ذِمَّةِ اللّٰهِ اِلَى الصَّلاَةِ   اَلْأُخْرَى (رَوَاهُ الطَّبْرَانِي)

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi di setiap akhir sholat fardu maka ia berada dalam perlindungan Allah sampai sholat berikutnya”. (HR AtTobroni)

عَنْ اَبِيْ قَتَادَةَ اَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَاَ اَيَةَ الْكُرْسِيِّ وَخَوَاتِيْمِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ عِنْدَ الْكَرْبِ اَغَاثَهُ اللّٰهُ (رواه ابن سني)

Dari Abi Qotadah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi dan ayat-ayat penutup surat Al Baqarah pada saat kesusahan maka Allah akan menolongnya”.(HR. Ibnu Sinai)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اَللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :مَنْ قَرَأَ اَيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ اَعْطَاهُ اللّٰهُ قُلُوْبَ الشَّاكِرِيْنَ, وَاَعْمَالَ الصِّدِّيْقِيْنَ وَثَوَابَ النَّبِيِّيْنَ, وَبَسَطَ عَلَيْهِ يَمِيْنَهُ بِالرَّحْمَةِ, وَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ إِلاَّ اَنْ يَمُوْتَ فَيَدْخُلَهَا

Dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat kursi pada setiap selesai sholat fardu maka Allah memberinya hati-hati orang yang selalu bersyukur, dan amal para shiddiqin, pahala para nabi dan Allah membentangkan atasnya  tangan kanan-Nya dengan rahmat dan ia  tidak tercegah masuk surga sampai ia meninggal dunia lalu ia memasukinya”.

وَاَخْرَجَ الْمَحَامِلِي فِى فَوَائِدِهِ عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدَ قَالَ: قَاَلَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ عَلِّمَنِيْ شَيْئًا يَنْفَعُنِيْ اللّٰهُ بِهِ قَالَ اِقْرَأْ اَيَةَ الْكُرْسِيِّ فَإِنَّهُ يَحْفَظُكَ وَذُرِّيَّتَكَ وَيَحْفَظُ دَارَكَ حَتَّى الدَّوَيْرَاتِ حَوْلَ دَارِكَ

Al Mahamiliy meriwayatkan dalam kitab “Fawaid”-nya dari ibnu mas’ud ia berkata: seseorang berkata: “wahai Rasulullah SAW ajarkanlah padaku sesuatu yang Allah memberi manfaat kepadaku dengannya, Rasulullah menjawab bacalah ayat kursi maka sesungguhnya ia menjagamu, menjaga keturunanmu dan menjaga rumahmu sampai rumah-rumah disekitar rumahmu”.

Tafsir ayat 256 surat AlBaqarah

Kata-kata thogut menurut mujahid adalah:

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: (الطَّاغُوْتُ) الشَّيْطَانُ فِيْ صُوْرَةِ الْإِنْسَانِ يَتَحَاكَمُوْنَ اِلَيْهِ وَهُوَ صَاحِبُ اَمْرِهِمْ

Dari Mujahid ia berkata: kata At Thoghut adalah syetan dalam bentuk manusia, (mereka para mansia)  berhukum kepadanya dan ia adalah penguasa mereka

عَنْ مَالِكٍ بِنْ اَنَسٍ قَالَ (الطَّاغُوْتُ) مَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ

Dari malik bin Anas ia berkata: At Thoghut adalah apa-apa yang disembah selain Allah

Tadabbur Al Baqarah [2] ayat 1 - 5

TADABBUR, TARTIL DAN TERJEMAH
Qs. Al Baqarah (2); 1-5

اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

 1 الم

1. Alif laam miim

  2  ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ.

2. Kitab ini (Al Quran) tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa

     3 اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ

3. Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, dan menegakkan shalat,

وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ.

Dan dari apa-apa yang kami rizkikan kepada mereka, mereka menginfakkannya

 4 وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ

4. Dan orang-orang yang  mereka beriman kepada  apa-apa yang diturunkan kepadamu (Al Quran)

وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِاْلاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ.

Dan kepada apa-apa yang  diturunkan sebelum kamu, dan terhadap akhirat mereka yakin

5 اُولٰئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ لا

5. Mereka Itulah berada diatas petunjuk Tuhan mereka,

وَاُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.

Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung

Hadits yang berkaitan dengan ayat  diatas

اِنَّ هٰذَا الْقُراٰنَ مَأْدُوْبَةُ اللّٰهِ فَتَعَلَّمُوْا مِنْ مَأْدُوْبَتِهِ مَاسْتَطَعْتُمْ اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ حَبْلُ اللّٰهِ وَهُوَ النُّوْرُ الْمُبِيْنُ وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ عِصْمَةُ مَنْ تَمَسَّكَ بِهِ وَنَجَاةُ مَنِ اتَّبَعَهُ لاَ يُعَوِّجُ فَيُقَوِّمُ وَلاَ يَزِيْغُ فَيُسْتَعْتَبُ وَلاَ تَنْقَضِيْ عَجَائِبُهُ وَلاَ يُخْلَقُ عَنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ (رَوَاهُ اَبُوْدَاودَ)

“Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah jamuan Tuhan. Maka pelajarilah dari jamuan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah tali Allah, cahaya yang jelas, obat yang bermanfaat, penjagaan bagi yang berpegangteguh kepadanya, keselamatan bagi orang yang mengikutinya. Tidak bengkok sehingga harus diluruskan, tidak menyimpang sehingga dikecam. Keajaibannya tidak berakhir, dan tidak memudar karena banyak membacanya.” (HR. Abu Dawud)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاٰنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan yang mengajarkannya”.

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بِنْ عَمْرٍو  رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْاٰنِ اِقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَاِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ اٰخِرِ اٰيَةٍ تَقْرَؤُهَا (رَوَاهُ اَبُوْدَاودَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ)

Dari Abdullah bin amr ra. Dari Nabi SAW beliau bersabda: dikatakan kepada pemilik Al Qur’an bacalah! Dan tingkatkanlah! Dan tartilkanlah! Sebagaimana engkau mentartil di dunia sesungguhnya kedudukanmu (di surga) pada akhir ayat yang engkau baca” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi mensohihkannya)

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَجِيْئُ الْقُرْانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُ يَارَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ, ثُمَّ يَقُوْلُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ  الْكَرَامَةِ, ثُمَّ يَقُوْلُ  يَارَبِّ اِرْضَ عَنْهُ فَيَرَْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اِقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ اٰيَةٍ حَسَنَةً  (رَوَاهُ  التِّرْمِذِيُّ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ)

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW beliau bersabda: Al Qur’an datang pada hari qiamat, lalu ia berkata: Ya Tuhanku hiasilah ia! Lalu Ia dipakaikan mahkota kehormatan, kemuadian ia berkata lagi: ya Allah tambahlah lalu ia dipakaikan lagi perhiasan kehormatan kemudian ia berkata: wahai Tuhanku, ridhailah ia lalu Ia (Allah) meridhoinya lalu dikatakan kepadanya bacalah! Dan tingkatkanlaht dan ditambahkanlah pada  ayat satu kebaikan. ( HR AT Tirmidzi dengan sanad ang shohih)

  عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ قَرَاَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللّٰهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا لاَ اَقُوْلُ  الم حَرْفٌ وَلكِنْ اَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ(رَوَاهُ  التِّرْمِذِيُّ)

Dari abdullah ra dari Nabi SAW beliau bersabda: barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al Qur’an)  maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh yang semisalnya, aku tidak berkata  الم (alif lam mim) itu satu huruf tapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR. At Tirmidzi)

DOA SETELAH MEMBACA ALQUR’AN

اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِيْ بِنُوْرِ الْحِكْمَةِ الْقُراٰنِ  يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ,

Ya Allah, berilah cahaya dalam hatikud engan cahaya berupa hikmah Al Qur’an Wahai Dzat yang Maha Penyayang

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا نَافِعًا وَارْزُقْنِيْ فَهْمًا طَيِّبًا  وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ رَبِّ  الْعَالَمِيْنَ

Ya Tuhanku, tambahkanlah bagiku ilmu yang bermanfaat dan rizkikanlah kepadaku kefahaman yang baik. Dan segala puji milik Allah Tuhan semesta alam

Pemikiran Cendekiawan Muslim Indonesia

HADJI OEMAR SAID COKRO AMINOTO

Beliau adalah modernis pertama dari cendekiawan muslim indonesia yang menginginkan agar gerakan islam terorganisir dengan rapi , itulah sebabnya beliaulah orang yang pertama kali mendirikan organisasi islam ternama yaitu "Syarikat Islam".13 Mei 1912 Cokroaminoto mendapat amanah kehormatan ,memegang kepemimpinan Syarikat Islam , walaupun sebenarnya Syarikat Islam didirikan pada tahun 1906 namun  sejarah indonesia menuliskannya tgl 10 September 1912 yaitu pada saat mendapat Badan Hukum  dari  Notaris di Surakarta.

Oemar Said Cokroaminoto  seorang ulama dan diplomat serta politikus, melalui Syarikat Islam bertindak sebagai pandai besi, ditempanya jiwa ummat yang sedang panas ibarat besi yang sedang membara. kemudian jiwa itu dibentuk menjadi senjata yang mampu melindungi dan menjaga serta menyukseskan kepentingan dan target ummat, menegakkan tuntutan hak politik ummat.

Dengan mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW, Oemar Said Tjokroaminoto berjuang membangkitkan kesadaran nasional umat Islam. Bangkit dengan Al Qur’an dan sunnah. Melalui paradigma Lima-K, dibangunkanlah kesadaran umat Islam yang sedang terlena dan lupa akan martabat dirinya, agar bangkit menjadi bangsa yang merdeka:

Pertama, kemauan. Seperti yang diingatkan oleh Rasulullah SAW, bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Bila rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Sebaiknya, bila baik maka baiklah seuruh kerja tubuhnya. Apa itu? Qolbu, sumber gerak motivasi manusia.

Dari pengertian tersebut, Oemar Said Tjokroaminoto, membangkitkan terlebih dahulu kemauan umat Islam. Apabila umat Islam telah bangkit kemauannya maka umat Islam akan memiliki kekuatan yang tak terhingga. Tidaklah menurut teori carl von Clausewitz, on war, bahwa untuk dapat memenangkan perang, maka yang diutamakan dan dijadikan target serangan adalah destruction of the enemy will (penghancuran kemauan lawan)

Kedua, Kekuatan. Tidaklah benar suatu bangsa menjadi “terkalahkan” apabila wilayahnya sudah diduduki. Hal tersebut masih dapat direbut kembali wilayahnya, apabila yang terkalahkan masih mempunyai kemauan. Oleh karena itu, Oemar Said Tjokroaminoto, memperioritaskan membangun kekuatan dari kemauan umat nusantara Indonesia boleh saja diduduki oleh penjajah, tetapi tidaklah berarti telah terkalahkan pula kemauan umat Islam sebagai mayoritas rakyat Indonesia.

Ketiga, kemenangan. Apabila kemauan yang menumbuhkan kekuatan, dan kedua-duanya telah dijadikan landasan dasar gerak juang umat, maka dapat diperhitungkan hasilnya, InsyaAllah akan memperoleh kemenangan.

Keempat, kekuasaan. Apalah arti kemenangan, apabila tidak disertai tindak lanjut untuk siap berperan aktif sebagai pembuat kebijakan melalui kekuasaan yang diterima sebagai amanat rakyat. Oleh karena itu, menurut konsep Oemar Said Tjokroaminoto bahwa tujuan membangkitkan kesadaran umat Islam adalah agar umat Islam siap dan mau menduduki kembali kekuasaan.

Umat Islam menjadi tertindas diakibatkan kehilangan 40 kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Dilemahkan eksistensinya dengan cara para sultannya dipaksa untuk menandatangai korte verklaring (perjanjian pendek). Para sultan hanya memiliki gelar sultan, namun tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan kekuasaan ekonomi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan kehidupan istana, bersama kerabatnya, sultan terima gaji dari pemerintah kolonial Belanda.

Lalu, bagaimana dan apa yang harus diperjuangkan umat Islam? Dalam kondisi tersebut, umat Islam harus dibangkitan kesadarannya agar berani membangun kembali kekuasaan politik Islam yang pernah eksis di nusantara Indonesia.

Konsep Oemar Said Tjokroaminoto:

Tidak bisa manusia mendjadi oetama jang sesoengoeh-soenggoehnja, tidak bisa manoesia mendjadi besar dan moelia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia mendjadi berani dengan keberanian jang soeci dan oetama, kalau ada banjak barang jang ditakoeti dan disembahnja.

Keoetamaan, kebesaran, kemoeliaan, dan keberanian jang sedemikian itoe, hanjalah bisa tertjapai karena “ tauhid”sahadja. Tegasnja, menetapkan lahir batin: tidak ada sesembahan, melainkan Allah sahadja.

Oleh karena itu, apalah arti umat Islam sebagai mayoritas, apabila berjuang merebut kembali kemerdekaan, tetapi tidak ada kesiapan, kemauan, dan keberanian untuk menduduki kekuasaan. Pasti akan terjajah kembali.

Perlu pula dijadikan target dari gerakan kebangkitan kesadaran nasional terhadap sebagian ulama yang menyebarkan ajaran bahwa kekuasaan politik dan ekonomi di dunia adalah untuk orang kafir. Umat Islam tempatnya adalah di akhirat. Kesalahan pemahaman beragama Islam tersebut, menjadi focus perhatian Oemar Said Tjokroaminoto untuk menyadarkannya agar mengeri bahwa umat Islam sengsara kehidupan beragamanya akibat penjajah menguasai pemerintahan. Dengan kata lain, umat Islam tertindas dan kehilangan kemerdekaannya dikarenakan tidak lagi memiliki kekuasaan politik dan ekonomi.

Kelima, kemerdekaan. Hanya dengan berperan aktif dalam pengambilan keputusan (decision makers) dalam lembaga ekskutif, legislatif, yudikatif, serta kelembagaan tinggi lainnya, menurut Oemar Said Tjokroaminoto, umat Islam akan memeroleh kemerdekaan politik. Setelah dimilikinya kemerdekaan poilitik, langkah selanjutnya menciptakan kemerdekaan sejati. Puncak dari kehidupan bernegara dan berbangsa yang berdaulat  adalah melepaskan umat Islam dan bangsa Indonesia seluruhnya dari kemiskinan dan kebodohan serta menegakkan keadilan.

Paradigma Lima-K tersebut, dituliskan dalam lambang banteng Sjarikat Islam. Ketiga paradigma dasar: kemauan, kekuatan, dan kemenangan, dituliskan dengan huruf arab melayu. Sedangkan kedua paradigma berikutnya, kekuasaan dan kemerdekaan, dituliskan dengan huruf jawa.

Perbedaan pilihan hurufnya, memberikan pesan tersirat bahwa ketiga paradigma: kemauan, kekuatan, dan kemenangan dituliskan  dengan huruf Arab melayu, melambangkan jiwa ketiga paradigma tersebut berlandaskan ajaran Islam. Ketiga-ketiganya diletakkan di kaki depan lambang banteng.

Kedua paradigma berikutnya dituliskan dengan huruf dan bahasa Jawa adalah kawasa (kekuasaan) dan merdika (kemerdekaan), dituliskan pada posisi yang tidak sama. Di sebelah kanan lambang banteng ada di atas lambang matahari, tertuliskan merdika (kemerdekaan). Di sebelah kiri banteng, tertuliskan kawasa (kekuasaan). Hal tersebut memberikan pengertian dalam mengaplikasikan kedua-duanya bertolak dari ajaran Islam, tetapi harus disesuaikan dengan lingkungan kehidupan budaya politik serta pertanda zaman (Zeitgeist) di Nusantara Indonesia.

Catatan: lambang banteng pada mulanya sebagai lambang Sjarikat Islam. Sesudah Perserikatan Nasional Indonesia berdiri, Boeng karno meminta izin kepada Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, lambang banteng dijadikan lambang Perserikatan Nasional Indonesia (1927M).

Lambang Sjarikat Islam semula memberikan gambaran kelengkapan kekuatan dan tujuan dari gerakan nasioanl yang dipimpinnya. Kekuatannya digambarkan dengan symbol banteng, dan segenap senjata pusaka yang dimiliki oleh berbagai etnis bangsa Indonesia, ditempatkan mengelilinginya perisai yang berbentuk jantung hati, menanamkan rasa cinta terhadap tanah air, bangsa, Negara dan agama. Senjata pusaka sebagai penjaga atau perlindungan. Kapal berlayar dan matahari terbit, melambangkan tanah air yang merdeka.

Di bagian bawah terdapat gambar Oemar Said Tjokroaminoto, ditempatkan dalam lingkaran tali. Sedangkan, di kanan dan kirinya terdapat symbol timbangan sebagai lambang keadilan, selanjutnya di bagian kiri terdapat symbol padi sebagai lambang kemakmuran, yang dibelit dengan pita berwarna merah dan putih, bertuliskan hadits: Al- mu’minu lil mu’mini kal bunyani yasyuddu ba’dhuhu ba’dhan (hubungan antarsesama mukmin laksana sebuah bangunan yang saling mengokohkan).

Adapun di bagian atas terdapat symbol matahari, dtengahnya terdapat bulan bintang yang memancarkan sinarnya sebagai lambang kehadiran Sjarikat Islam, penunjuk jalan juang umat, baik siang dan malam. Matahari dan bulan bintang tersebut dikelilingi bagian atasnya dengan tulisan Innamal mu’minina ikhwatun (sesungguhnya sesama mu’mi adalah ikhwan). Sedangkan di bagian bawahnya tertulis, billahi sabilil haq (bersama Allah di jalan yang benar).

Lambang syarikat Islam tersebut, selanjutnya menjadi lambang dari berbagai organisasi sosial , Partai Polotik dan Militer yang didirikan sesudah Syarikat Islam, sedangkan Syarikat Islam sendiri hanya menggunakan lambang Bulan Bintang.

Pada awal kepemimpinannya beliau masih menggunakan blankon jawa, tapi setelah Syarikat Islam menyebar ke daerah daerah lain tidak hanya di jawa beliau mengganti blankonya dengan Kopiah, yaitu suatu tutup kepala yang tidak pernah di pakai oleh suku apapun.
 
(Dikutip dari Buku "Api Sejarah" tulisan Ahmad Mansur Suryanegara)

PROFIL SANTRI MAHASISWA FIRDAUS TAHUN 2011


Dari sebelah kiri Atobroni Rawavanse (mahasisiwa ITN-asal Ponorogo), Ridwan Ardani (Mahasisiwa UMM-asal Kotabaru-Kalimantan), Ahmad Firdaus Sulthoni (Mahasiswa UIN-asal Jember) dan Zakky Zeaudin Ahmad (Mahasiswa UM-asal Blitar)


Muhammad Agus Surasyid
Mahasiswa Fakultas Pertanian Brawijaya
daerah Sidoarjo Jawa Timur



dari kanan bawah : Muslikhudin s.com., dari Fakultas MIPA Unibraw ( sekarang bekerja  di UIN Malang ), Anshorul Fatah dari Fakultas Psikologi UM ( dah selesai Belum Anshorul ), Dwi Dian  dari FAI UMM ( dah selesai pa belum nih ), Attobronini Rawavase dari Fakultas........ ITN Malang ( sih nngarap apa Ron ), Agus Surosyid dari Fak Pertanian Unibraw  ( cepetan kuliahnya dah hampir punya jundi Nich ), Muji Eko Setianto Fak Syariah UIN malang ( Lho kok ilang kemana nich juntrungnya ).

Surat Al Fatihah [1] ayat 4

مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ
“Raja / Penguasa hari pembalasan”

Allah yang Maha pengasih dan maha penyayang tersebut adalah juga penguasa hari pembalasan, Yang akan melakukan perhitungan-perhitungan terhadap amal hamba-hamba-Nya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa يَوْمِ الدِّيْنِ adalah hari pembalasan sebagaimana sebuah atsar yang diriwayatkan darinya:
وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: يَوْمُ الدِّيْنِ يَوْمُ الْحِسَابِ لِلْخَلاَئِقِ, يَدِيْنُهُمْ بِأَعْمَالِهِمْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ. وَ إِنْ شَرًّا فَشَرٌّ إلاَّ مَنْ عَفَاعَنْهُ[1]
Dari ibnu Abbas beliau berkata: yaumuddin itu adalah hari perhitungan bagi seluruh makhluk, mereka akan dibalas berdasar amal mereka, bila baik maka baiklah hisabnya dan jika buruk maka buruklah hisabnya, kecuali Dia (Allah) mema’afkannya.
           
Pada hari pembalasan nanti Allah adalah raja yang menguasai semesta. Tiada lagi raja-raja dunia yang sekarang seolah-olah sangat berkuasa, ketika hari pembalasan diakhirat nanti tiba-tiba mereka tak memiliki kekuasaan apapun, bahkan mereka termasuk orang yang akan diadili sebagaimana sabda rasulullah SAW. dalam sebuah hadist.
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقْبِضُ االلهُ الْأَرْضَ وَ يَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ, أَيْنَ مُلُوكُ الأَرْضِ؟ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ؟ (رَوَاهُ الشَيْخَانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ)
Rasulullha SAW bersabda; Allah menggenggam bumi dan Ia menghamparkan langit dengan tangan kanannya. Kemudian Dia berfirman: Aku Adalah raja”, mana raja-raja bumi tersebut ?  mana  para raja yang sewenang-wenang itu ? Dan mana orang-orang yang menyombongkan diri tersebut? ( Diriwayatlkan oleh dua syaikh, Bukhori dan Muslim dari Abi Hurairah)
            Setiap ummat manusia akan menghadapi suatu pembalasan yang amat menakutkan  seperti tergambar dalam surat Abasa (80) ayat 33-37, yang berbunyi sebagai berikut:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ(33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ(34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ(35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ(36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ(37)
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua)
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya
Dari ibu dan bapaknya
Dari istri dan anak-anaknya
Setiap orang dari mereka pada hari itu
Mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya
(QS. Abasa, 80: 33-37)

Pada hari itu setiap orang sangat takut dengan hisabnya, dan mereka ingin hisab tersebut ditunda lebih lama agar mereka dapat beramal shaleh, tapi saat itu bukanlah saat untuk beramal, sebab  mereka telah diberi kesempatan untuk beramal ketika di dunia dulu.dan mereka tidak mempergunakannya dengan baik, bahkan menyia-nyiakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah.

Mengenai pertanggung jawaban pada hari pembalasan Prof. Dr. Quraisy Syihab[2] membaginya menjadi 2 macam pertanggung jawaban yaitu:
1.    Pertanggung jawaban yang bersifat individual, dimana setiap orang mempertanggungjawabkan amalnya masiang-masing sebagaimana ayat yang berbunyi:
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا (95)
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (QS. Maryam (19): 95)

2.    Pertanggung jawaban yang  bersifat kolektif ( jama’i). Dimana setiap bangsa, ummat, atau kelompok mempertanggungjawabkan sejarah perjalanan bangsanya, kelompoknya dan bagaimana peran setiap individu dalam sejarah perjalanan bangsa tersebut. Hal tersebut tercantum dalam dalam surat Al Jatsiyah ayat 28 yang berbunyi:
وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ(28)
Dan pada hari itu,
Kamu lihat tiap-tiap ummat berlutut.
Tiap-tiap ummat dipanggil
Untuk mempertanggung jawabkan buku catatan amalnya.
Pada hari itu
Kalian akan Di Balas Terhadap Apa-Apa Yang Kalian Kerjakan
(QS. Al Jatsiyah, 45:28)
            Pada hari itu يَوْمِ الدِّيْنِ  masing-masing ummat berkumpul untuk menyelesaikan urusan-urusan yang tak selesai di dunia ini, mungkin ada orang yang disakiti, dipenjarakan, atau dihinakan. Padahal sebenarnya dialah orang yang seharusnya diikuti oleh kaum tersebut karena selalu menyampaikan kebenaran dan menentang kedholiman yang merupakan misi utama ajaran Islam untuk mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Mungkin ada orang yang karena struktur kemasyrakatan menjadi sangat kaya, sedangkan yang lainnya menjadi sangat miskin atau sebagian lainnya menjadi sangat bodoh dan lemah karena kekuasaan di masanya tidak berpihak kepada kemiskinan dan kefakiran.
            Sedangkan makna ummat yang nantinya akan mendapat pengadilan dari Allah menurut Prof. Dr. Dawam Raharjo dalam buku ensiklopedi Al Qur’annya sangat luas sekali, dapat berupa suatu organisasi atau lembaga keagamaan/ kemasyarakatan dapat pula berupa sekelumpulan orang yang memiliki visi dan misi yang sama, atau bahkan suatu negara atau masyarakat yang terkumpul dalam suatu negara. Jika demikian maka dapat dikatakan setiap kelompok, organisasi, lembaga atau negara akan mempertanggungjawabkan  segala perjalanan sejarah  atau amal usaha yang telah dilakukannya di dunia dahulu.[3]
            Menurut pandangan Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi dzilalil Qur’an, ayat ini (مَالِكِ يَومِ الدِّيْنِ) adalah merupakan kepercayaan global (menyeluruh) terhadap hari akhirat, sebab  الْمَالِك adalah puncak kekuatan tertinggi di hari pembalasan, percaya kepada hari kiamat adalah aqidah pokok yang bernilai tinggi dan berdampak positif dalam kehidupan. Beberapa hal positif yang dapat diambil pelajaran dan keyakinan terhadap adanya hisab pada hari akhir adalah:
1) Orang yang keyakinannya kuat terhadap hari pembalasan pasti akan selalu mengaitkan segala amal perbuatannya di dunia ini dengan suatu kehidupan abadi yang langgeng, hingga ia pasti akan berbuat yang terbaik di dunia ini karena balasan yang diharapkannya adalah balasan di akhirat kelak.
2) Orang yang percaya pada hari kiamat tidak akan kecewa terhadap balasan manusia di dunia ini, yang kadang-kadang kurang menghargai kebenaran dan kebajikan, bahkan seringkali kebenaran dan kebajikan dilecehkan dan dihinakan karena berbeda dengan kepentingan  segelintir penguasa dholim.
3) Dengan kepercayaan pada hari kiamat membuat orang-orang yang beriman konsisten pada manhaj Allah yang mulia dan tidak mencari jalan-jalan atau tata cara hidup yang berbeda dengan yang dikehendaki Allah. Hanya Islamlah manhaj yang akan di tempuh dan diperjuangkan dalam hidup, walau tantangan yang dihadapinya dalam kehidupan dunia ini cukup besar dan berat, karena ia tahu itu hanya bersifat sementara dan sesaat, sedangkan kehidupan abadi yang menyenangkan akan menantinya jika ia berhasil melaksanakan misi ketuhanannya.[4]  Sementara manusia yang lemah keyakinannya tidak akan konsisten dengan manhaj Islam dalam hidup dan perjuangannya karena kesadaran transendennya tidak membawanya kesana, tapi ia akan menghabiskan waktunya dengan segala sesuatu yang melalaikan yang tidak membawa manfa’at bagi kehidupan akhiratnya, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Hadid (57) ayat 14 yang berbunyi:
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمْ الأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ اَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورْ (الْحَدِيْد : 14)
Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
"Bukankah dahulu kami bersama-sama dengan kalian?"
 Mereka menjawab:
 "Benar,
 Tetapi kalian mencelakakan dirimu sendiri
 Dan menunggu-nunggu (kehancuran kami) dan kalian ragu-ragu (terhadap agama)
Serta ditipu oleh angan-angan kosong
Hingga datanglah ketetapan Allah;
dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.
 (QS. Al Hadid :14)

4) Kepercayaan kepada hari pembalasan dapat membuat manusia menjadi produktif dengan kerja yang berkualitas karena tahu segala nikmat akan dihisab oleh Allah dengan hisab yang sebenar-benarnya sebagimana Umar bin Khattab pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفَسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
 “Hisablah diri kalian  sebelum kalian dihisab”.

            Demikianlah pengaruh keyakinana terhadap hari kiamat pada diri seseorang yang jika diapresiasikan selalu akan membawa dampak yang sangat positif bagi optimisme dan keteguhan pribadi seseorang, oleh sebab itu Rasulullah SAW. Bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ بَعْدَ الْمَوْتِ ( رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرمِيْذِي وَابْنُ مَاجَه)
Orang yang cerdas adalah orang yang mengisab dirinya dan berbuat untuk hari setelah kematiannya.  (H.R. Imam Ahmad, turmudzi dan ibnu majah)

Karena itulah para sahabat sering menangis 


          
[8] Dawam Rahardjo, Ensiklopedi  Al Qur’an, cet 2, hal.174  2002
[9] Qurays Shihab : hal. 32

Silaturrahim dan Halal bi Halal di Kebun Teh Lawang

SITUASI HALAL BI HALAL DI KEBUN TEH LAWANG
USTADZ WAFIR, ( BAJU HIJAU ), PRASETYO PANDU, SUKAMTO

SITUASI SANTRI PUTRI DI KEBUN TEH LAWANG
SANTRI PUTRA DAN ALUMNI DI KEBUN TEH LAWANG
SANTRI PUTRI DI KEBUN TEH LAWANG
USTADZ SAFRIH SEDANG MEMBERI TAUSYIYAH
SANTRI PUTRA SEDANG BERACTION DI KEBUN TEH LAWANG

PROFILE TRAINER FITRA

RONI, FIRDAUS, ZAKI, RIDWAN DAN AGUS
PARA TRAINER FITRA 2011




PARA TRAINER FITRA SEDANG BERPOSE DI DEPAN 
KAMPUS UMM MALANG 
 PARA TRAINER DI DEPAN KAMPUS ITN MALANG


FIRDAUS TRAINING CENTER

AGUS CANDRA  ( TRAINER FITRA )
JALAN JALAN DI SENGGIGI LOMBOK SETELAH MENTRAINING
PARA TRAINER FITRA THN 2008




TELAH MENIKAH

TELAH MENIKAH 

Muslikhudin, S.Kom.
(Alumni Pesantren Mahasiswa FIRDAUS Malang)

dengan

Titik Anisa Nur Kholida

Pada hari Ahad, Tanggal 10 Juli 2011

Kedua mempelai bersama Pengasuh, Pengurus, dan Santri Putri Pesantren Mahasiswa  FIRDAUS Malang
Kedua mempelai bersama Ustadz H. Fadlan dan Ustadzah Hj. Rukmini Amar

FIRDAUS TRAINING CENTER

TRAINING FITRA DI SMA PANJURA MALANG

FIRDAUS TRAINING CENTER

TRAINING FITRA DI PANTI ASUHAN  PUTRA MUHAMMADIYAH MALANG ( 20010 )

FIRDAUS TRAINING CENTER

PANITIA TRAINING KEPRIBADIAN TRANSFORMATIF
DI INEZ APARTEMENT




PESERTA TRAINING KEPRIBADIAN TRANSFORMATIF
DILAKSANAKAN OLEH PESANTREN MAHASISWA/I FIRDAUS MALANG






APAKAH AL QUR'AN MEMERLUKAN HERMENEUTIKA

Ringkasan dari tulisan Ugi Suharto
     Hermeneutika , yang meminjam perkataan Inggris hermeneutics, bukan merupakan  suatu istilah netral yang tidak bermuatan pandangan hidup ( World -view ), apabila perkataan ini dikaitkan dengan Al qur'an atau biblical studies , arti hermeneutika telah berubah dari pengertian bahasa semata menjatadi istilah yang memiliki makna tersendiri . perpindahan makna hermeneutika dari pengertian bahasa kepada pengertian istilah merupakan satu perkembangan kemudian . Sumber sumber perkamusan sepakat bahwa peralihan makna istilah itu dimulai dari usaha dari para ahli teologi Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks- teks dalam kitab suci mereka .
         Mengapa dengan hermeneutika itu para teolog tersebut bertujuan mencari  nilai kebenaran Bible ?, jawabnya adalah karena mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks teks kitab suci mereka , mereka mempertanyakan apakah secara harfiah Bible itu bisa dianggap Kalam Tuhan atau perkataan manusia, aliran yang meyakini bahwa lafaz Bible itu kalam Tuhan mendapat kritikan keras dan dianggap ekstrim dalam memahami Bible. Adanya perbedaan pengarang itulah yang menyebabkan Bible tidak bisa dikatakan Kalam a perluTuhan ( the World of God ) secara harfiah.Mereka hampir sepakat bahwa Bible secara harfiahnya bukan Kalam Tuhan. oleh sebab itu mereka merasa perlu untuk membaca Bible " betwen the line "demi memahami firman Tuhan yang sebenarnya. Disinilah peranan hermeneutika dalam membantu memahami Bible bagi para teolog Kristen.
        Keadaan ini berbeda dengan kaum Muslimin , yang bisa memahami Kalam Tuhan dari Al qur'an baik " on the line " ataupun " between the line " , kaum muslimin sepakat bahwa Al qur'an itu adalah Kalam Allah yang ditanzilkan kepada Rasulullah  Muhammad SAW . Kaum Muslimin juga sepakat bahwa secara harf Al qur'an itu dari Allah , juga kaum muslimin sepakat membaca Al qur'an secara Harfiah adalah ibadah dan diberi pahala , menolak bacaan harfiah adalah kesalahan , membacanya secara harfiah dalam sholat adalah syarat , dan memahami Al qur'an secara harfiah juga dibenarkan , sementara terjemahan Harfiah dan alih bahasanya tidak dikatakan sebagai Al qur'an . Ibnu Abbas misalnya pernah menyatakan bahwa diantara pemahaman Al qur'an itu ada sejenis tafsir yang semua orang dapat memahaminya ( la ya'dziru ahad fi fahmihi ), pemahaman yang seperti ini sudah tentu merujuk pada pemahaman lafaz harfiahnya.oleh sebab itu kaum muslimin , berbeda dengan Yahudi dan Kristen , tidak pernah merasa bermasalah dengan lafaz lafaz harfiah
Al qur'an .
        perbedaan selanjutnya adalah, bahwa bible kini ditulis dan dibaca bukan lagi dengan bahasa asalnya . bahasa asal bible adalah Hebrew untuk perjanjian lama, Greek untuk perjanjian baru dan Nabi Isa sendiri berbicara dengan bahasa Aramaic . Bible ini kemudian ditejemahkan keseluruhannya dalam bahasa Latin, lantas ke bahasa bahasa Eropa yang lain seperti Jerman, Inggris, Perancis dan lain lain termasuk bahasa Indonesia, yang banyak mengambil dari Bible Bahasa Inggris .oleh sebab itu dengan ketiadaan bahasa asal Bible pada hari ini , maka wajarlah kalau para Teolog Yahudi dan Kristen mencari jalan dab metodologi untuk memahami kembali Bible melalui hermeunetika . menurut Schleiermacher diantara tugas heurmeneutika itu adalah untuk memahami teks " sebaik atau lebih baik dari pada pengarangnya sendiri' , maka wajarlah apabila Bible yang dikarang oleh banyak orang itu memerlukan Heurmenetika untuk memahaminya dengan cara yang lebih baik dari pengarangnya sendiri.
         adapun Al qur'an , bagaimana mungkin terpikir oleh kaum muslimin bahwa mereka dapat memahami Al qur'an lebih baik dari Allah swt atau Rasulullah saw, oleh sebab itu , dalam upaya pemahaman yang lebih mendalam mengenai Al qur'an , kaum muslimin sebenarnya hanya memerlukan tafsir dan bukan heurmeineutika , karena kaum muslimin telah menerima kebenaran harfiah Al qur'an sebagai Kalam Allah.kalau diperlukan pemahaman yang lebih mendalam lagi , contohnya untuk ayat ayat yang mutasyabihat , yang diperlukan adalah ta'wil . Perlu ditegaskan bahwa dalam tradisi islam , ta'wil juga tidak sama dengan hermeunitika , karena ta'wil mestilah berdasarkan dan tidak bertentangan dengan tafsir , dan tafsir berdiri di atas lafadz harfiah al qur'an . jadi sebagai suatu istilah ta'wil dapat berarti pendalaman makna ( intensification of meaning ) dari tafsir .
          Al jurjani ( w. 816/1413 ) misalnya , dalam kamus istilah yang terkenal , kitab al - Ta'rifat menyatakan hubungan makna tafsir dan ta,wil sebagai berikut :
          Ta'wil secara asalnya bermakna kembali, namun secara Syara'  ia bermakna memalingkan lafaz dari maknanya yang zahir kepada makna yang mungkin terkandung di dalamnya, apabila makna yang mungkin itu sesuai dengan ( semangat ) Kitab dan Sunnah . contohnya firman Allah " Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati  ( al anbiyak 59 ) apabila yang dimaksud disitu adalah mengeluarkan burung dari telur maka itulah tafsir . Tetapi apabila yang dimaksud disitu adalah mengeluarkan  orang beriman dari orang kafir , atau orang yang berilmu dari orang yang bodoh , maka itulah Ta'wil.
       Dari keterangan diatas jelaslah bahwa Ta'wil itu lebih dalam dari tafsir ,  dan tafsir itu  berdasarkan kepada makna zahir lafaz harfiah ayat ayat Al qur'an . walaupun ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama' mengenai makna tafsir dan ta'wil , namun mereka tidak pernah mempersoalkan teks Al qur'an sebagai Kalam Allah. tegasnya " textual critism " untuk Al qur'an tidak ada dalam tradisi islam. oleh sebab itu dalam hal ini , tetap tidak dapat disamakan antara tafsir dan takwil dengan heurminitika yang berangkat dari " textual criticim " pada Bible. Sebuah buku Hermeuniutika terbitan Kanisius Yogyakarta , misalnya sempat menyamakan Al qur'an dengan Bible dan kitab agama yang lain , dan menyatakan bahwa tafsir sama dengan hermeuniutika .
        Disiplin ilmu yang pertama yang banyak menggunakan hermeuneutika adalah ilmu tafsir kitab suci. sebab semua karya yang mendapat inspirasi Ilahi seperti Al qur'an , kitab Taurat, kitab kitab veda dan Upanishad supaya dapat dimenegrti memerlukan interpretasi atau hermeuneutik.
       Pendapat yang mengatakan bahwa Al qur'an adalah " karya yang mendapat inspirasi Ilahi " seperti juga Bible , jelas tidak dapat diterima oleh kaum muslimin . orang orang islam tidak pernah memahami bahwa Al qur'an itu sebuah karya, sehingga perlu hermeuneutika untuk memahami karya tersebut. sebaliknya pemikiran itu datang dari kaum orientalis yang mengecoh kaum muslimin agar menganggap Al qur'an itu karya Muhammad dan islam juga agama buatan Muhammad  alias Muhammadanism.
          Sudah tentu ketika teks teks Bible menjadi masalah , maka interpretasinyapun akan lebih bermasalah . Tidak mengherankan dalam hal ini Werner G. Jeanroad pernah berbicara mengenai " krisis interpretasi Bible " dan berharap bahwa hermeneutika dapat memberikan andil dalam mengatasinya .Jika hermeuneutika hermeuneutika itu ingin diterapkan untuk kajian Al qur'an , hermeuneutika mana yang harus diambil, lalu mengapa hanya mengambil hermeuneutika tertentu dan menolak yang lain ?kemudian apa jaminannya hermeuneutika yang diambil itu betul betul menunjukkan pengertian yang sebenarnaya mengenai  Al qur'an ? bukankah jika mengambil hermeuneutika tertentu , berarti itupun sudah masuk dalam " school of thought " tertentu , kalau begitu dimana obyektifitasnya ? dan masih banyak lagi persoalan persoalan yang lain.
             Amabil contoh Fazlur Rahman , dia lebih setuju pada heurmeuneutika Betti yang mengatakan bahwa makna asli suatu teks itu terletak pada konteks sejarah ketika teks itu ditulis , kalau begitu apa pula pendapat Fazlur Rahman mengenai kesimpulan filsafat hermeuneutika yang mengesahkan adanya problem besar " hermeuneutika circle " yaitu sejenis lingkaran syaitan pemahaman obyek obyek sejaran yang mengatakan bahwa " jika interpretasi itu juga berdasarkan interpretasi , maka lingkaran interpretasi itu tak dapat dielakkan , akibatnya adalah pemahaman seseorang tentang teks teks dan kasus kasus sejarah yang tidak akan pernah sampai , karena apabila seseorang dapat memahami konteksnya , maka konteks sejarah itupun adalah interpretasi juga . apabila hal ini diterapkan pada Al qur'an , maka selama lamanya Al qur'an tidak akan pernah dimengerti dan difahami.
            Apabila filsafat hermeuneutika digunakan kepada Al qur'an maka yang muhkamat akan menjadi mutasyabihat , yang usul menjadi furu', yang tsawabit menjadi mutaghayyirat , yang qat'iyy menjadi zanniyy, yang ma'lum menjadi majhul , yang ijma' menjadi ikhtilaf , yang mutawattir menjadi ahad dan yakin akan menjadi zann, bahkan syakk, alasannya saja , yaitu filsafat hermeuneutika tidak membuat pengecualian terhadap hal hal yang axiomatic diatas.
         Dalam posisi yang lebih ekstrem , filsafat hermeneutika telah memasuki dataran epistemologis yang berakhir pada pemahaman sophist yang bertentangan dengan pandangan hidup  islam ( islamic weltanscchauung ). Filsafat hermeneutika berujung pada kesimpulan universal bahwa " all understanding is interpretation " dan karena interpretasi itu tergantung kepada orangnya, maka hasil pemahaman ( Understanding, verstehen ) itupun menjadi subyektif. Dengan perkataan lain , tidak ada orag yang dapat memahami apa pun dengan secara obyektif. Apabila semua ini dikaitkan dengan kajian Al qur'an , maka akibatnya tidak ada kaum Muslimin yang mempunyai pemahaman yag sama megenai Al Qur'an , karena semua pemahaman itu tergantung pada interpretasi masing masing . Tetu kaum muslimin tidak bermaksud begitu apabila menafsir atau mena'wil Al Qur'an .
        surat Al -Ikhlas dalam Al -Qur'an , misalnya , dapat difahami dengan mudah oleh kaum muslimin bahwa Allah itu Esa, Allah tidak beranak dan diperanakkan, dan tidak ada yang setadingdengan Dia. Walaupun terdapat perbedaan pendalaman pemahama mengenai Tauhid antara orang awam , namun tidak ada seorang muslimpun yang mengatakan Allah itu satu di antara yang tiga atau tiga di antara yag satu .
           Sebagai kesimpulan, hermeneutikanitu berbeda dengan tafsir ataupun takwil dalam tradisi islam. Hermeneutika tidak sesuai untuk kajian Al Qur'an , baik dalam arti teologis atau filosofis. Dalam arti teologis hermeneutika akan berakhir dalam mempersoalkan ayat ayat yang zahir dari Al qur'an dan menganggapnya sebagai problematik . Diantara kesan hermeneutika teologis ini adalah adanya keragu raguan terhadap Mushaf Usmani yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik oleh muslim sunni atau syi'ah , sebagai " textus receptus ". keinginan Muhammad Arkoun , misalnya untuk men "deconstruct " Mushaf Ustmani , adalah pengaruh dari hermeneutika teologis ini, selain dari pengaruh Jacques Derrida. Dalam artinya yang filosofis hermeneutika akan mementahkan kembali aqidah kaum muslimin yang berpegang bahwa Al qur'an adalah kalam Allah .Pendapat almarhum Fazlur Rahman yang mengatakan bahwa Al qur'an " both the Word of God and the word of Muhammad adalah kesan dari hermeneutika filosofis ini.Semua itu tidak menguntungkan kaum muslimin , dan hanya menurunkan derajat validitas Al qur'an seolah olah sama dengan kitab yang lain .Kita khawatir akhir akhir ini kita begitu bergairah mengimpor istilah hermeneutika untuk kajian Al Qur'an tanpa menyelidiki terlebih dahulu latar belakang istilah itu sendiri yang mempunyai muuatan pandangan hidup berlainan dengan pandangan hidup islam .
            saya akan mengakhiri makalah ini dengan satu peringatan dari hadist Rasulullah saw yang berbunyi :

" kamu akan mengikuti jalan jalan kaum sebelum kamu , sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal , sehingga apabila mereka masuk lubang biawak sekali pun kamu akan mengikutinya juga . Kemudian Rasulullah saw ditanya : " apakah mereka yang diikuti itu kaum Yahudi dan Nasara " Rasulullah menjawab : siapa lagi ( kalau bukan mereka ) .( HR . Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad .) .
Wallahu A'lam bi al Showab.







di ringkas dari tulisan Ugi Suharto dalam majalah " TARJIH " ( Jurnal Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam ) edisi ke - 6.

MERAJUT UKHUWWAH

Begitu penting arti ukhuwwah bagi kejayaan ummat islam , tapi masalah ukhuwwah inilah yang didalam masyarakat kita sekarang ini sangat langka, masing masing kita berkelompok kelompok, dan masing masing kelompok curiga terhadap kelompok lainnya, masing masing kelompok tidak suka terhadap kemajuan dari kelompok lain, padahal perpecahan , taassub , dan fanatik adalah ciri dari masyarakat jahiliyah pada masa Rasulullah, mereka suka berperang, berkelahi satu sama lain , ini digambarkan oleh Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat : 103 yang berbunyi  : وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
         ayat diatas menyuruh kita ummat islam selalu berpegang teguh pada tali Allah itu secara berjama'ah
( bersama sama dalam suatu komunitas yang menegakkan syari'at Allah ) , ibnu jarir dan ibnu abi khatim meriwayatkan dari jalan syukba dari stabit bin qutnah al muzani ia berkata : " bahwa aku mendengar ibnu Mas'ud berkhutbah dan dia berkata " wahai manusia wajib atas kamu ta'at dan berjama'ah , sesungguhnya keduanya itu adalah tali Allah yang ia perintahkan dengannya ." ( tafsirAl Ma'sur , hal 285 ).
          Ibnu Majah dan ibnu jarir  meriwayatkan juga dari abi khatim dari Anas ia berkata : Rasulullah SAW bersabda " Bani Israil telah berpecah  menjadi 71 firqoh, dan sesungguhnya ummatku akan berpecah menjadi 72 firqoh , semuanya di neraka kecuali satu , mereka ( para sahabat ) berkata " ya Rasulullah siapakah yang satu ini ? , Rasulullah bersabda " Al jama'ah ".  kemudian Rasulullah bersabda :"  berpegang teguhlah kalian pada tali Allah secara bersama sama dan jangan berpecah belah "
          inti ayat ini menyuruh kita untuk selalu berpegang teguh pada agama Allah dan jangan berpecah belah, bermusuh musuhan sesama kaum muslim sendiri karena Allah menyamakan hal itu dengan berdiri di pinggir jurang neraka , artinya sangat dekat sekali dengan neraka.disinilah perlunya teman teman kita pupuk persatuan ummat tanpa meperhatikan kelompok . golongan , maupun organisasinya  demi kejayaan dan keutuhan ummat islam

Interpretasi Tentang Semut

hingga apabila mereka sampai di lembah semut , berkatalah seekor semut, " hai semut semut
masuklah kedalam sarangmu, agar kamu tidak di injak oleh Sulaiman  dan tentaranya
sedangkan mereka tidak menyadari
( QS: An- Naml [ 27 ] : 18 )
      Yang menjadi pertanyaan atau keheranan kita adalah mengapa semut dipilih untuk diabadikan di dalam Al qur'an yang kita percayai sebagai mukjizat terbesar sekaligus petunjuk bagi ummat manusia sampai akhir zaman ? mengapa bukan hewan lain seperti belalang, cacing , kecoa, orong orong atau yang lainnya? apa kelebihan semut dibandingkan dengan hewan hewan lain? atau ada apa dengan semut? cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah penelitian lapangan atau laboratorium.
       Ternyata majalah Reader Digest yang terbit pada akhir dasa warsa 1970-an pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut di bandingkan dengan hewan hewan lainnya. Pertama, komunitas semut menjadi sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap dengan pembagian tugasnya. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif. Artinya, kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut  dapat berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainya. Hewan lain umumnya bertarung individu-individu. Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang. Keempat, semut mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan, atau lainnya kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang menghasilkan cairan manis. Semut tahu, hewan ini malas berpindah karena itu semut membantu memindahkannya ke tempat baru jika lahan disekitar itu telah mulai tandus dan setelah semut memerah cairannya setiap periode waktu tertentu. Sampai saat ini, belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan. Kelima, semut mengenal sistem navigasi yang baik.
         Apakah hanya itu? Wallahu a'lam. Manusia baru menyibak rahasia dan keistimewaan semut sebanyak itu. Sifat-sifat dan keistimewaan harus diselidiki lebih lanjut melalui riset lapangan dan labolatorium yang terancang, terjadwal, bahkan akurat. Dengan cara seperti itulah, ilmu pengetahuan yang maju dan berkembang pesat sekarang dibangun. 
dikutip dari  buku Ayat-Ayat Semesta.
karangan :Agus Purwanto, D.Sc.
Ahli Fisika Teoritis, lulusan Universitas Hiroshima, jepang
dosen Fisika ITS



PUISI PUISI ISLAMI

HARUM NEGRI CINTA

DI BAWAH KAKI-MU
KUCIUM BAU HARUM N EGRI CINTA
DI BAWAH UNDANG UNDANG-MU
KUCIUM BAU HARUM NEGRI CINTA
DITANGAN PARA SAHABAT-MU
KUCIUM BAU HARUM NEGRI CINTA

RIBUAN DO'A KUKIRIM BAGIMU RAJA
ASAL KURSIMU BERBAU CINTA
NAMUN KAU TETAP TAK PEDULI
GLAMOUR DUNIA DAN FATARMOGANA PILIHANMU
KEKERASAN DAN KETAKADILAN MAKANANMU
MAKA, PERGILAH DARI KEAGUNGAN CINTA SEJATI

desember 2003

MATAHARI DAN BULAN GEMETAR

Wahai ummat!

Kapan matahari dan bulan gemetar?

Karena takwamu

Kapan serigala-serigala menangis ?

Ketika kau berdiri di tengah-tengah padang

Kapan domba-domba mengikuti-Mu ?

Ketika kau pamerkan diri

Sebagai pembawa arys Tuhan yang agung

Kapan sinar keagungan Tuhan nampak ?

Tidak hanya di masjd-masid

Kapan Tuhan kan turun ?

Ketika mendengar do’a dan dzikir hamba-hamba-Nya

Tuhan tak hendak mendekat

Pada cahaya pribadi yang buram

Karena kurang tempaan ilmu dan dzikir

Walau singa-singa Tuhan siap siaga

Membela keagungan arys

Namun singa tetaplah singa

Tak punya kebijakan


Merangkul sahabat





                Malang, 24 Juli 2001
by: Nur'Ainy Almascatty 


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India